Promkes RSUD Kapuas tentang Stunting / Kekerdilan

KUALA KAPUAS – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Kapuas melakukan penyuluhan kesehatan tentang Stunting, yang pada kesempatan itu disampaikan langsung oleh Kristin Natalia, AMG, selaku Ahli Gizi RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas, beserta tim PKRS, yang mana penyuluhan kesehatan tersebut merupakan kegiatan rutin Promosi Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit (PKMRS), Kamis (12/12).

Kristin menjelaskan stunting adalah suatu kondisi yang ditandai ketika panjang atau tinggi badan anak kurang jika dibandingkan dengan umur. Atau mudahnya, stunting adalah kondisi di mana anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan tubuhnya lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya. Stunting (Kerdil) adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis / menahun terutama dalam 1000 hari pertama (sejak janin dalam kandungan sampai anak usia 2 tahun).

Banyak yang tidak tahu kalau anak pendek adalah tanda dari adanya masalah gizi kronis pada pertumbuhan tubuh si kecil. Terlebih lagi, jika stunting dialami oleh anak yang masih di bawah usia 2 tahun. Hal ini harus segera ditangani dengan segera dan tepat. Tubuh pendek pada anak yang berada di bawah standar normal, merupakan akibat dari kondisi kurang gizi yang telah berlangsung dalam waktu lama. Hal tersebut yang kemudian membuat pertumbuhan tinggi badan anak terhambat, sehingga mengakibatkan dirinya tergolong stunting. Jadi singkatnya, anak dengan tubuh pendek belum tentu serta merta mengalami stunting. Pasalnya, stunting hanya bisa terjadi ketika kurangnya asupan nutrisi harian anak, sehingga memengaruhi perkembangan tinggi badannya.

Dijelaskan pula penyebab anak mengalami kekerdilan atau stunting antara lain faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita, kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, serta setelah ibu melahirkan, masih terbatasnya layanan kesehatan termasuk  layanan ANC (Ante Natal Care) atau pelayanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan), Post Natal care, dan pembelajaran dini yang berkualitas, masih kurangnya akses kepada makanan bergizi dikarenakan harga makanan bergizi di Indonesia masih tergolong mahal, dan kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi.

Ciri – ciri stunting pada anak antara lain pertumbuhan gigi terlambat, performa buruk pada tes perhatian dan memori belajar, tanda pubertas melambat, usia 8-10 tahun anak menjadi lebih pendiam atau tidak banyak melakukan eye contact, pertumbuhan melambat, dan wajah tampak lebih muda dari usianya.

Stunting terjadi sejak ibu mengandung hingga usia anak 2 tahun (80% pembentukan otak dari mulai dalam janin sampai anak usia 2 tahun). Bahaya stunting yaitu otot anak sulit berkembang dan tubuh sulit tumbuh. “Cara mencegah stunting antara lain sejak dalam kandungan janin diberikan asupan gizi yang baik dan seimbang, ibu hamil tidak boleh mengalami anemia, rutin pemeriksaan kesehatan ibu selama masa kehamilan, setelah anak lahir jangan biarkan anak mengalami sakit infeksi yang berulang, serta berikan ASI, vaksinasi dan berikan asupan makanan yang seimbang dan sesuai usia,” pungkasnya. (PKRSKps)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *