Edukasi Kesehatan Melalui Podcast Di Radio Membahas Tentang Penyakit HIV / AIDS
KUALA KAPUAS – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas melalui Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) kembali mengudara di frekuensi 98,1 FM yang beralamat di Jalan DI Panjaitan, Kelurahan Selat Hilir, Kecamatan Selat, memberikan informasi dan edukasi kesehatan bersama narasumber dr. Fitri Ningrum Intani, selaku Dokter Umum Madya dan Dokter Penanggung Jawab Pelayanan Klinik VCT, dan didampingi Popo Subroto, SKM, M.I.Kom, selaku Administrator Kesehatan Ahli Muda dan Koordinator Unit Promkes RS, serta ditemani Penyiar Radio Diskominfo Kab. Kapuas, Joni Setiawan, mengulas tentang yang dilaksanakan pada hari Kamis (21/05/2026).
dr. Iin begitu beliau disapa, menjelaskan bahwa HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Jika tidak ditangani, virus ini dapat melemahkan daya tahan tubuh sehingga tubuh mudah terkena berbagai penyakit. AIDS adalah tahap lanjut dari infeksi HIV ketika daya tahan tubuh sudah sangat lemah. HIV dan AIDS adalah mempunyai pengertian yang berbeda. HIV adalah virusnya, sedangkan AIDS adalah kondisi yang dapat terjadi jika infeksi HIV tidak diobati dan sudah berkembang lebih berat.

HIV dapat menular melalui beberapa cara, seperti hubungan seksual tanpa pengaman dengan penderita HIV, penggunaan jarum suntik secara bergantian, transfusi darah yang terkontaminasi, serta dari ibu ke bayi saat kehamilan, persalinan, atau menyusui apabila tidak mendapat penanganan medis.
“Seseorang yang sehat dan rajin olahraga tetap bisa terkena HIV, hal ini karena HIV tidak berkaitan dengan kuat atau lemahnya fisik seseorang. Virus HIV menular melalui Hubungan seksual tanpa pengaman dengan penderita HIV. Penggunaan jarum suntik bergantian. Transfusi darah yang terkontaminasi, dan Penularan dari ibu ke bayi. Jadi meskipun seseorang rajin olahraga, makan sehat, atau terlihat bugar, risiko HIV tetap ada jika melakukan perilaku berisiko. HIV tidak menular lewat sentuhan biasa, pelukan, bersalaman, batuk, bersin, berbagi makanan, atau memakai toilet yang sama.” ujarnya.

Gejala orang yang tertular HIV melalui beberapa stadium, antara lain, Stadium 1 (Asimtomatik/Tanpa Gejala) Penderita merasa sehat dan tampak normal. Mungkin terdapat pembesaran kelenjar getah bening. Stadium 2 (Gejala Ringan), Ditandai dengan penurunan berat badan ringan (<10%), infeksi saluran napas berulang (seperti sinusitis atau bronkitis), sariawan berulang, dan ruam kulit. Stadium 3 (Gejala Menengah/HIV Lanjut) Penderita mengalami penurunan berat badan drastis (>10%), diare kronis tanpa sebab jelas, demam terus-menerus, infeksi bakteri parah (seperti pneumonia atau tuberkulosis paru). Stadium 4 (AIDS/Penyakit Lanjut) Sistem kekebalan tubuh sangat lemah. Penderita mudah terserang infeksi oportunistik parah yang mengancam jiwa (seperti tuberkulosis ekstra paru, toksoplasmosis otak, kanker serviks invasif, dan sebagainya).
HIV sering disebut sebagai “silent infection” karena pada tahap awal banyak orang tidak menunjukkan gejala apa pun. Seseorang bisa tetap terlihat sehat, aktif bekerja, bahkan jarang sakit selama bertahun-tahun meskipun sudah terinfeksi HIV. Satu-satunya cara memastikan status HIV adalah dengan melakukan tes HIV di fasilitas kesehatan. Tes ini penting karena HIV yang diketahui lebih awal bisa segera diobati. Pengobatan dapat menjaga daya tahan tubuh tetap baik. Risiko penularan ke orang lain bisa ditekan. Karena itu, kita tidak boleh menilai status HIV seseorang hanya dari penampilan fisiknya.
Satu-satunya cara yang pasti adalah dengan melakukan tes HIV di fasilitas kesehatan. Tes ini penting karena seseorang bisa tampak sehat tetapi sebenarnya sudah terinfeksi. Apabila seseorang merasa pernah berisiko, segera lakukan pemeriksaan atau tes HIV di fasilitas kesehatan. Semakin cepat diketahui, maka penanganannya juga bisa lebih cepat dan hasil pengobatan biasanya lebih baik.

“Saat ini HIV belum bisa disembuhkan total, tetapi bisa dikendalikan dengan obat antiretroviral atau ARV. Dengan minum obat secara teratur, orang dengan HIV dapat hidup sehat dan produktif. Dengan pengobatan yang tepat, pola hidup sehat, dan pemeriksaan rutin, orang dengan HIV dapat tetap bekerja, beraktivitas, dan menjalani hidup seperti biasa,” tambahnya.
HIV bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga masalah sosial. Banyak orang takut karena Kurangnya pengetahuan tentang HIV. Banyak mitos yang salah berkembang di masyarakat, serta adanya stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV (Orang Dengan HIV). Padahal saat ini HIV sudah dapat dikendalikan dengan obat antiretroviral (ARV). Banyak ODHIV yang hidup sehat, bekerja, menikah, dan memiliki keluarga. Yang sebenarnya berbahaya bukan hanya virusnya, tetapi juga stigma yang membuat orang takut tes dan takut berobat.
Pencegahan dapat dilakukan dengan Menghindari perilaku seksual berisiko dimana pencegahan dapat dilakukan dengan setia pada satu pasangan, Menggunakan kondom, Tidak berbagi jarum suntik, Melakukan tes HIV secara berkala bagi yang berisiko, Serta mendapatkan edukasi kesehatan yang benar, serta Mencegah penularan dari ibu ke bayi dengan kontrol kehamilan yang baik.
Masih banyak stigma negatif terhadap orang dengan HIV/AIDS karena masih banyak informasi yang salah dan ketakutan berlebihan. Padahal, orang dengan HIV butuh dukungan, bukan dijauhi. Edukasi yang benar sangat penting untuk mengurangi stigma negatif. Jika merasa pernah berisiko tertular HIV, segera periksa ke fasilitas kesehatan untuk konseling dan tes HIV. Semakin cepat diketahui, semakin cepat pula penanganan bisa dilakukan.
Banyak orang takut melakukan tes HIV, beberapa alasan yang sering terjadi Takut hasil positif, Takut dikucilkan masyarakat, Merasa malu, Kurang pengetahuan tentang HIV, Takut dianggap memiliki perilaku buruk. Padahal tes HIV justru langkah berani dan bertanggung jawab untuk menjaga kesehatan diri sendiri dan orang lain. Semakin cepat diketahui, semakin baik hasil pengobatannya.
Dengan pengobatan yang tepat ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) dapat hidup sehat. Risiko penularan ke pasangan dapat ditekan. Risiko penularan dari ibu ke bayi juga bisa sangat rendah. Saat ini banyak pasangan dengan HIV yang berhasil memiliki anak yang sehat karena mengikuti program pengobatan dan pemeriksaan rutin.
Edukasi kesehatan membantu masyarakat memahami bahwa HIV tidak menular melalui interaksi sehari-hari dan penderita HIV perlu didukung, bukan dijauhi. Remaja adalah kelompok usia yang sedang aktif mencari jati diri dan sering terpapar informasi yang belum tentu benar. Edukasi HIV/AIDS penting agar remaja, Memahami cara penularan HIV, Menghindari perilaku berisiko, Menghargai kesehatan reproduksi, Tidak mudah percaya mitos, Tidak mendiskriminasi ODHA, serta Pendidikan sejak dini dapat membantu menurunkan angka penularan HIV di masa depan. Melawan HIV bukan hanya tugas tenaga kesehatan, tetapi tugas bersama seluruh masyarakat. (PromkesRSUDKps)
