Promkes RSUD Kapuas Lakukan Edukasi Kesehatan Tentang Malaria Tahun 2026 Melalui Radio Siaran Pemda Kapuas
KUALA KAPUAS – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas melalui Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) kembali mengudara di frekuensi 98,1 FM yang beralamat di Jalan DI Panjaitan, Kelurahan Selat Hilir, Kecamatan Selat, yang mana pada kesempatan kali ini memberikan informasi dan edukasi kesehatan dari narasumber yakni, dr. Puspa Rahayu Dewanty, selaku Dokter Umum Madya, didampingi Popo Subroto, SKM, M.I.Kom, selaku Koordinator Unit Promkes RSUD Kapuas, dan ditemani Penyiar Radio Diskominfo Kab. Kapuas, Joni Setiawan, mengulas tentang Penyakit Malaria, pada hari Kamis (15/10/2026).
dr. Puspa yang bertugas sebagai Dokter Umum di Unit Gawat Darurat RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas, menjelaskan bahwa Hari Malaria Sedunia 2026 atau World Malaria Day jatuh setiap tanggal 25 April. Hal ini ditetapkan oleh negara anggota WHO selama Sidang Kesehatan Dunia pada tahun 2007. Pada Hari Malaria Sedunia 2026, Organisasi Kesehatan Dunia WHO mengangkat Tema “Bertekad Mengakhiri Malaria: Sekarang Kita Bisa. Sekarang Kita Harus.” Ini adalah seruan bersama guna memanfaatkan momen ini untuk melindungi nyawa manusiaa sekarang serta mendanai program masa depan bebas malaria.

Malaria merupakan salah satu penyakit yang mematikan di dunia, dan banyak ditemukan di daerah tropis seperti indonesia. Itulah sebabnya, pemerintah terus berupaya mengatasi penyakit ini demi mewujudkan Indonesia bebas malaria. Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama di wilayah yang memiliki risiko penularan. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa, dan dapat menyebabkan komplikasi berat jika tidak segera ditangani.
Malaria disebabkan oleh infeksi parasit plasmodium, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina, yang beredar pada petang sampai pagi hari. Parasit ini akan menetap di organ hati, berkembang biak, kemudian menyerang sel-sel darah merah. Malaria tidak ditularkan melalui kontak langsung dari orang ke orang, melainkan melalui gigitan nyamuk. Namun, malaria bisa juga ditularkan dengan cara-cara antara lain, Dari ibu kepada bayi dalam kandungannya, Jarum suntik, Tranfusi darah, dan Transplantasi organ.

Terdapat 5 jenis parasit plasmodium saat ini yang dapat menyebabkan infeksi malaria pada manusia, yaitu Plasmodium Vivax, Penyebab malaria tertiana ringan yang terjadi setiap 3 hari. Jenis malaria ini adalah yang paling umum dan banyak terjadi. Meski bergejala ringan, seperti demam dan menggigil, diare dan merasa lelah, penyakit malaria tertiana bisa melemahkan kekebalan tubuh. Plasmodium Falciparum, Penyebab malaria tropika yang banyak ditemukan di Afrika, Asia Tenggara, dan Amerika Selatan. Jika tidak ditangani dengan baik, malaria tropika dapat menimbulkan gangguan pada otak dan sistem saraf, serta kelumpuhan dan kejang. Plasmodium falciparum menempati urutan pertama penyebab kematian akibat malaria. Plasmodium Malariae, Penyebab malaria quartana yang jarang terjadi. Gejala yang timbul berselang empat hari sekali, seperti demam dan menggigil. Plasmodium Ovale, Penyakit malaria yang jarang terjadi, dan banyak ditemukan di negara-negara Afrika, Ghana, Nigeria dan Liberia. Gejalanya mirip seperti malaria quartana, yaitu demam dan menggigil, nyeri sendi dan diare. Parasitnya bisa menetap di organ hati hingga 4 tahun, hingga penyakit ini bisa kambuh kembali. Plasmodium Knowlesi, merupakan plasmodium yang baru ditemukan dimana parasit ini meninfeksi monyet ekor panjang dan monyet daun,yang kemudian menular ke manusi melalui gigitan nyamuk anopheles, di temukan di sumatra dan kalimantan. Malaria yang timbulkan juga bisa jatuh ke arah yang berat. Spesies yang dominan di Indonesia adalah P. Falciparum dan P.Vivax.
“Waspadai jika Anda mengalami berbagai keluhan ini, karena bisa jadi merupakan gejala penyakit malaria. Gejala-gejala ini bisa muncul beberapa minggu setelah tergigit nyamuk dan terinfeksi parasit plasmodium, (gejala muncul tergantung dari plasmodium yang menginfeksi),” tambahnya.

Gejala yang sering ditemukan(ringan), seperti Demam tinggi dan berulang, Menggigil (panas dingin), Sakit kepala, Berkeringat, Lesu dan letih, Mual dan sakit perut, Muntah, Diare, Nyeri otot dan sendi, Hilang selera makan. Sedangkan Gejala yang berat / tanda malaria berat, seperti Penurunan Kesadaran, bingung atau kejang, Sesak Nafas atau nafas cepat dan dalam, Lemas berat hingga tak mampu berdiri, Mata kuning atau kulit menguning, Muntah yang terus menerus, serta Perdarahan yang tidak normal.
Malaria dapat terjadi pada siapa saja. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terinfeksi malaria, yaitu Usia, Anak berusia di bawah lima tahun lebih rentan terinfeksi penyakit malaria. Orang tua dan wanita hamil juga memiliki risiko kematian lebih tinggi akibat penyakit malaria. Tempat tinggal, Orang-orang yang tinggal di wilayah tropis dan sub tropis, termasuk Indonesia, lebih rentan terkena penyakit ini, karena nyamuk penyebab malaria hidup di iklim tropis. Minim fasilitas kesehatan, Minimnya akses dan ketersediaan fasilitas kesehatan di suatu wilayah dapat meningkatkan risiko penularan dan berkembangnya penyakit menjadi kondisi yang lebih buruk. Genangan air, Kondisi Rumah ventilasi yang terbuka, Perpindahan penduduk, berpindahnya penduduk yang berasal daro endemis terutama. Kehamilan memiliki risiko komplikasi malaria yang lebih tinggi, Kekebalan Tubuh, dan Status gizi dan kondisi kesehatan. Khusus malaria knowlesi, Tinggal atau Bekerja di Hutan seperti berkebun di kawasan hutan, Sering Berada di habitat monyer ekor panjang atau monyet daun, dan Terpapar gigitan nyamuk anopheles di Hutan.
Penularan infeksi malaria bisa dicegah jika kita tahu apa itu malaria dan melakukan berbagai hal berikut ini, yaitu Tingkatkan daya tahan tubuh, dengan Pola makan sehat dan bergizi seimbang, Beraktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari, Cukup tidur, Cukup minum air putih, Tidak merokok, Hindari minuman beralkohol. Hindari gigitan nyamuk malaria, dengan Memasang kawat/kasa di jendela dan ventilasi rumah, Menyemprot ruangan dengan obat anti nyamuk, Tidur memakai kelambu atau oleskan krim anti nyamuk, Memakai pakaian tertutup, seperti kemeja lengan panjang dan celana panjang jika keluar rumah di malam hari. Menjaga kebersihan lingkungan, dengan Membersihkan lingkungan dan peralatan rumah tangga secara rutin, Tidak membiarkan air tergenang di sekitar rumah, Menutup penampungan air jika sedang tidak digunakan, dan Tidak menggantung pakaian atau kain bekas pakai dekat tempat tidur.

Penyakit malaria bisa disembuhkan dengan penggunaan obat-obatan. Prinsip utama pengobatan malaria harus disesuaikan dengan jenis parasit plasmodium, tingkat keparahan penyakit, usia dan berat badan pasien serta kondisi khusus seperti kehamilan. Namun, secara umum penyakit malaria bisa disembuhkan dalam dua minggu dengan pengobatan yang tepat. Berikut adalah obat-obatan yang biasa digunakan untuk menyembuhkan penyakit malaria seperti Pil Kina, Pil kina atau klorokuin fosfat merupakan obat untuk memerangi infeksi parasit. Namun, di banyak tempat parasit plasmodium sudah resisten terhadap klorokuin fosfat, sehingga bukan lagi merupakan pengobatan yang efektif. Terapi Kombinasi Berbasis Artemisinin (ACT), Kementerian Kesehatan RI dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan Artemisinin-based Combination Therapy (ACT) sebagai pengobatan untuk menyembuhkan penyakit malaria. Terapi ini memadukan dua atau lebih obat untuk melawan parasit malaria dengan cara yang berbeda, seperti artemether-lumefantrine (Coartem) dan artesunate-mefloquine. Dihidroarteremisin-piperakuin (DHP) untuk malaria tanpa komplikasi. Artesunat injek untuk kasus malaria berat, dan Primaquine untuk menbantu mencegah kekambuhan malaria P vivax dengan pertimbangan keamanan terlebih dahulu.
Jika malaria tidak diobati dan ditangani dengan baik, dapat mengakibatkan berbagai komplikasi yang membahayakan kesehatan, bahkan kematian. Beberapa gangguan kesehatan yang timbul jika malaria tidak diobati, antara lain Anemia, Kerusakan sel-sel darah merah oleh parasit malaria lambat laun akan menyebabkan anemia parah. Kerusakan pada otak, Kerusakan pada sel-sel darah merah dapat menyebabkan pembengkakan pada otak yang meningkatkan risiko kerusakan otak permanen, kejang hingga koma. Kegagalan organ tubuh, Parasit penyebab malaria dapat menimbulkan gangguan pada fungsi organ tubuh, seperti ginjal, hati, dan limpa, yang dapat mengakibatkan kematian. Gangguan pernapasan, Penderita malaria dapat mengalami kesulitan bernapas akibat cairan yang terkumpul dalam paru-paru (edema paru). Kerusakan pada sistem saraf, Parasit plasmodium falciparum dapat menginfeksi sistem saraf pusat, mengakibatkan gangguan neurologis, seperti kejang, kebingungan, bahkan kelumpuhan.
Malaria merupakan penyakit yang dapat dicegah dan diobati. Keberhasilan pencegahan malaria membutuhkan kerja sama antara masyarakat, tenaga kesehatan, pemerintah, dan berbagai pihak terkait. Segera periksakan diri ke dokter, puskesmas, atau rumah sakit, jika mengalami gejala-gejala terkena malaria seperti di atas untuk mendapatkan penanganan kesehatan yang tepat dan akurat. Mari bersama-sama melindungi diri dan keluarga dengan mencegah gigitan nyamuk, mengenali gejala malaria, serta segera melakukan pemeriksaan apabila mengalami demam. (PromkesRSUDKps)
