Promkes Dan Tim Kesehatan Anak RSUD Kapuas Lakukan Edukasi Kesehatan Memperingati Pekan TB Anak

KUALA KAPUAS – Pada Hari Selasa, 31 Maret 2026 Pukul 09.00 WIB, bertempat di Ruang Tunggu Poliklinik Anak Rawat Jalan RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas dilaksanakan Penyuluhan atau Edukasi Kesehatan Tentang Penanganan TBC Pada Anak dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis Dunia yang jatuh pada tanggal 24 Maret 2026, diberikan edukasi oleh dr. Agung Hari Wibowo, Sp.A, beserta Tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas yang bertempat di Jalan Tambun Bungai No.16 Kabupaten Kapuas.

UKK Respirologi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) bekerja sama dengan Pediatrician Social Responsibility (PSR) akan menyelenggarakan kegiatan Pekan Tuberkulosis Anak 2026, yang salah satu kegiatannya adalah penyuluhan serentak dengan tema: “Yes! We Can End TB”. Edukasi ini bertujuan untuk menjelaskan apa itu Tuberkulosis (TB), Mengapa anak-anak berisiko tinggi terkena TB, Pentingnya terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) bagi anak-anak yang kontak erat dengan pasien TB, serta Cara mendapatkan TPT dan kepatuhan dalam pengobatan.

Seperti diketahui, Tuberkulosis (TBC)adalah penyakit yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis (Mtb). Penularan terjadi melalui droplet nuclei saat penderita TB paru batuk atau bersin. Indonesia merupakan negara kedua terbanyak penyakit TB sedunia. TB dapat dicegah dan diobati, tetapi tetap menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia. Satu penderita TB dengan dahak yang positif dapat menularkan10-14 orang disekitarnya.

dr. Agung, begitu beliau disapa mengatakan bahwa anak-anak berisiko tinggi terinfeksi TB, karena imunitas anak-anak masih berkembang, sehingga lebih rentan terkena TB. Anak-anak yang tinggal serumah dengan penderita TB berisiko tinggi terinfeksi. TB pada anak sering tidak menunjukkan gejala khas, sehingga sulit didiagnosis.

Seorang anak dapat dicurigai terkena TB apabila anak-anak mengalami gejala batuk lama, demam lama, berat badan tidak naik lebih dari 2 bulan berturut-turut, anak tampak lemas (malaise) dan berkeringat malam, dimana gejala ini terjadi selama lebih dari 2 pekan, anak tersebut mengalami kontak erat atau kontak serumah, disarankan menjalani pemeriksaan dapat berupa rontgen dada, tes dahak, dan tes mantoux.

Dalam menangani tuberculosis anak dilakukan terapi pencegahan tuberculosis atau TPT yang berarti pemberian obat untuk mencegah anak yang sudah terinfeksi TB agar tidak jatuh sakit. Diberikan kepada anak yang kontak erat dengan pasien TB paru tetapi belum sakit TB aktif. Tidak semua anak yang terinfeksi TB akan sakit, tetapi tanpa TPT, risiko menjadi TB aktif lebih tinggi.

Manfaat terapi pencegahan TB (TPT), antara lain mencegah anak dari sakit TB aktif, mencegah penularan TB lebih lanjut di lingkungan keluarga, mengurangi risiko komplikasi TB berat, seperti meningitis TB, Efektif dan aman bila diminum sesuai petunjuk tenaga kesehatan.

Tantangan dalam pelaksanaan TPT, yaitu banyak orang tua tidak menyadari bahwa anak yang sehat tetap perlu TPT, kadang-kadang orang tua takut efek samping obat, beberapa keluarga tidak disiplin memberikan obat setiap hari, dan sulitnya akses layanan kesehatan di beberapa daerah. Solusi yang dilakukan yaitu Edukasi berulang, dukungan tenaga kesehatan, dan pemantauan rutin.

Cara mendapatkan TPT untuk anak, dengan datang ke Puskesmas atau Rumah Sakit untuk skrining TB pada anak, Jika memenuhi syarat, anak akan diperiksa dan diberikan TPT secara gratis sesuai program nasional, Ikuti jadwal kontrol yang diberikan tenaga kesehatan untuk memastikan kepatuhan pengobatan, dan Jika ada efek samping ringan, segera konsultasikan ke tenaga medis atau dokter, jangan hentikan sendiri.

“Melalui peringatan Pekan Tuberculosis Sedunia Tahun 2026 ini, mari kita jaga anak-anak kita dari penularan TB, dimana anak yang kontak erat dengan pasien TB paru berisiko sakit TB, pengobatan TPT penting untuk mencegah TB aktif, Pengobatan TPT aman, efektif, dan gratis di fasilitas kesehatan. Apabila anak-anak terpapar dan mengalami kontak erat dan bergejala TB ke Puskesmas atau rumah sakit untuk memutus mata rantai penularan TB sehingga masa depan lebih sehat dan cemerlang,” pungkas beliau menutup edukasi kesehatan. (PromkesRSUDKps)